Wabup Kubar Minta Lakukan Penghentian Aktivitas Sementara Dilokasi, Sebagai Sumber Pencemaran

  • Whatsapp
banner 468x60

SENDAWAR – Wakil Bupati Kubar H Edyanto Arkan SE bersama Dinas Lingkungan Hidup melakukan rapat koordinasi dengan PT GBU sebagai tindak lanjut tercemarnya Sungai Lejiu Putih Berlumpur Kampung Muara Nyahing yang masuk ke Sungai Kedang Pahu Kecamatan Damai,Jumat (13/8).

Rapat yang dipimpin langsung Wakil Bupati H Edyanto Arkan SE  yang dilaksanakan di Ruang Rapat Koordinasi kantor Bupati lantai III disepakati untuk dilakukan penghentian aktivitas sementara di areal-areal sekitar lokasi yang menimbulkan dampak lingkungan, khusus di lokasi sebagai sumber pencemaran. Turut hadir Anggota DPRD Kubar, Camat Damai dan Jajaran Manajemen PT GBU.

Wakil Bupati H Edyanto Arkan SE menambahkan sanksi yang diberikan kepada perusahaan sesuai Undang-Undang  Nomor 32  Tahun 2009 pasal 76 yakni Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.

Adapun sanksi sebagai konsekuensi administrasi berupa paksaan Pemerintah kepada perusahaan untuk memperbaiki fasilitas di sekitar lahan yang diKupas/len kliring sehingga tidak terjadi  luapan lumpur sampai ke Sungai Lejiu Putih, apabila hal tersebut sudah dilakukan dan diyakini aman baru kegiatan bisa dilaksanakan kembali. Oleh sebab itu untuk saat ini semua aktivitas yang dekat dengan sungai dihentikan, dan minimal jarak dengan sungai 50 meter tidak ada kegiatan.

Untuk lokasi berada di sekitar kampung Muara Nyahing Kecamatan Damai  yang berada dianak Sungai Leju Puti, secara pisik warna sungai yang berubah dan kandungan Total Suspended Solid (TSS) yang sangat tinggi.”Untuk sekelas sungai Nyahing kelas dua maksimum TSS 50 namun yang terjadi TSS mencapai 600 dan cukup tinggi, untung saja tidak terlalu berdampak hingga nyawa hilang namun dampak sangat besar bagi warga masyarakat di sepanjang sungai tersebut,” kata Wabup.

Salah satu parameter kualitas perairan yang diduga berubah adalah Total Suspended Solid (TSS). Total Suspended Solid (TSS) merupakan zat padat (pasir, lumpur, dan tanah liat) atau partikel tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi, ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan partikel anorganik.

Sekali lagi Wakil Bupati mengingatkan kepada pihak perusahaan agar sebelum melaksanakan kegiatan betul-betul harus sesuai dengan Rencana Kelola Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) betul-betul aman. Dan hal seperti ini diharapkan tidak terulang kembali dan perusahaan diminta langsung memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat yang terdampak.

Dalam kesempatan tersebut dalam penanggulangan keruhnya sungai perusahaan juga sudah menyiapkan sumur-sumur air bersih dengan pompa di beberapa kampung di wilayah kecamatan Damai, sebagai langkah cepat penanganan.  Dan saat ini untuk sumur-sumur air bersih sudah dikoordinasikan pihak kecamatan dan PT GBU.(hms10)

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *