Polresta Balikpapan Amankan Komplotan Pembuat Surat PCR Palsu

  • Whatsapp
banner 468x60

Balikpapan, rakyatkaltim.com – Komplotan pemalsu surat Polymerase Chain Reaction (PCR) diungkap Tim Unit Tipidter (Tindak Pidana Tertentu ) Kepolisian Resor Kota (Polresta) Balikpapan mengamankan 3 orang pelaku dengan inisial AY (48) sebagai perantara, PR (32) yang merupakan salah satu Manager sebuah Klinik di Balikpapan dan DI (30) seorang wanita yang bertugas mencetak surat PCR palsu.

Pengungkapan jaringan pemalsu surat PCR berkat adanya laporan dari petugas di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Balikpapan, Lanud Domber dan Satgas Covid-19 yang ada di Bandara.

Hari ini, Polresta Balikpapan merilis kasus pemalsuan surat PCR yang merupakan syarat untuk melakukan perjalanan melalui jalur udara, oleh Kapolresta Balikpapan, Kombes Pol. Turmudi saat gelar jumpa pers di Mapolresta Jl.Jenderal Sudirman, Balikpapan, Selasa (3/8)21).

“Saat itu ada 3 orang penumpang pesawat jurusan Medan, Sumatra Utara hendak memasuki pesawat, kemudian saat petugas melakukan pemeriksaan barcode surat PCR penumpang tersebut, ternyata didapati jika surat PCR yang dibawa penumpang yang akan bertolak dari Balikpapan itu palsu,” terang Kombes Pol Turmudi.

“Saat diperiksa barcode yang ada disurat PCR nya memang bisa terbaca , namun barcode terbaca lain. Bukan barcode untuk penggunaan yang dimaksud,” imbuhnya.

Kapolres menambahkan, modus jaringan pemalsu surat PCR ini bekerja dengan cara dimana ada salah satu orang yang mau berangkat keluar daerah dari Balikpapan.

Kemudian memerintahkan temannya untuk mengurus surat PCR yang menjadi salah satu syarat untuk melakukan perjalanan luar daerah, namun ternyata teman yang diminta untuk mengurus surat PCR melalui jasa calo.

Selanjutnya, jasa calo tersebut mencari klinik yang bisa membuat surat PCR tanpa melalui test sesuai prosedur Covid-19 yang seharusnya.

“Biaya jasa pembuatannya 900 ribu, kemudian calo sendiri mendapatkan 250 ribu, sementara untuk sisanya biaya jasa untuk klinik pembuat surat,” ungkapnya.

“Jadi jaringan ini sudah beroperasi sekitar satu bulan lamanya, bahkan sudah banyak yang menggunakan jasanya dengan modus yang sama.

Ya, ada kurang lebih 40 orang yang sudah menggunakan jasa mereka,” jelasnya.

Lanjut Kapolres, kasus ini akan terus dikembangkan, apakah akan ada keterlibatan pemilik klinik itu sendiri, karena saat ini yang masih diamankan yakni 2 karyawan klinik dan 1 orang calo (perantara).

“Kita akan terus kembangkan, karena klinik ini milik keluarga, bahkan klinik ini bukan salah satu klinik yang ditunjuk pemerintah untuk melakukan PCR,” jelasnya.

Atas perbuatannya ketiga pelaku akan dikenakan Pasal 263 KUHP dan 268 KUHP dan Pasal 93 UU RI Nomor 6 Tahun 2018 tentang ke Karantinaan Kesehatan dengan ancaman hukuman paling lama 6 Tahun. (**/eds)

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *