Pengamat Ekonomi Sebut Aplikasi Uang Saku dan Sejenisnya Revolusi Dari MLM

  • Whatsapp
banner 468x60

Foto: (ilustrasi)

Samarinda – Belakang ini, Aplikasi Uang saku dan sejenisnya tengah ramai menjadi perbincangan masyarakat. Bahkan tak banyak juga mereka ikut menjadi member terjun langsung demi mendapatkan penghasilan dengan tawaran yang bisa dibilang hanya kerja santai. Bagaimana tidak hanya bermodalkan smartphone dan cukup menonton iklan atau video, para member aplikasi ini dapat mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan mudahnya.

Namun banyak masyarakat, tidak mengetahui persis resiko di balik tawaran Aplikasi yang menjanjikan itu. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu kepada empat orang di Samarinda yang tertipu puluhan juta rupiah. Lantaran tergiur penghasilan yang lumayan dengan menyetorkan sejumlah uang kepada penyedia aplikasi.

Menangapi fenomena itu, Pengamat Ekonomi, Hairul Anwar yang merupakan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mulawarman (Unmul), mengatakan Aplikasi Uang Saku pada dasarnya merupakan modus lama, hanya saja di era digital ini platform yang mereka gunakan berbeda.

“Apa ini modus lama, tentu tidak, hanya berubah platform saja kalau dulu itu MLM (Multi Level Marketing), sekarang di era digital mereka berevolusi, mengikuti trend yang ada di masyarakat,” jelas Cody sapan akrab Hairul Anwar saat di hubungi Minggu (28/2/2021).

Cody menjelaskan, aplikasi ini pada dasarnya tidak memiliki izin di Indonesia, yang lebih menghawatirkan aplikasi tersebut tidak mendapat pengawasan, membuat oknum dengan mudah membuat dan merancang hanya berbeda-beda prodak.

“Soal izin mereka gak perlu izin, dan aturan pun tidak ada kecuali Undang-undang ITE, sehingga banyak orang yang tak terlindungi,”  ungkapnya.

“Berbeda dengan bisnis Saham yang di pantau langsung oleh OJK, yang memiliki aturan main,” tambahnya.

Cody menyebut, saat ini banyak masyarakat tidak pernah mendapat edukasi terkait aturan main aplikasi bisnin di era digital seperti saat ini.

“Bisnis digital itu siapa saja bisa masuk,
Mereka gak perlu izin, jadi masyarakat harus sadar resikonya,”

Cody memberi contoh, Perusahaan besar seperti Gojek, pihak Gojek tidak main-main membakar uang demi dengan memberilan vocer atau potongan kepada pelanggan, Perlu dicatat meski sudah ada pendapatan, namun mungkin belum menguntungkan. Mereka masih dalam tahap investasi dan berharap akan mengeruk keuntungan di masa depan.

“Yang kuat modal ya terus jalan seperti halnya Gojek, namun bagi merek bermodal kecil sudah pasti gulung tikar, begitu juga yang terjadi pada aplikasi-aplikasi semacam uang saku ini,” terangnya.

Bisahkan Aplikasi Uang Saku dan sejenisnya ini berjalan, Cody menjawa bisa saja, namun pihak aplikasi harus mengikuti aturan main dari OJK maupun aturan Kominfo.
Seperti halnya bisnis bursa atau saham yang saat ini juga lagi trend di masyarakat, mereka di awasi pihak OJK. Agar kedepannya masyarakat mendapatkan perlindungan

“OJK turun disini, aturannya jelas, bisnisnya seperti apa?, kalau bisa kementrian komunikasi dan informatika ikut serta,” bebernya.

Dibelakang wawancara, Cody memberikan tips dan saran bagi masyarakat agar tak menjadi korban aplikasi Uang Saku atau sejenisnya.

“Jangan ikut-ikut trend, bisnis tak sesederhana itu, pasti ada untung dan rugi, carilah informasi sebanyak-banyaknya sebelum terjun, dan jangan mudah terpancing oleh tawaran-tawaran yang mengiurkan,” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Budi Kurniawan

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *