Kedelai Meroket, Pengusaha Tahu dan Tempe di Samarinda Ikut Terdampak

  • Whatsapp
banner 468x60

Foto: Aktifitas Kasimin pengusaha pabrik rumahan saat memproduksi tahu (Muhammad Budi Kurniawan/rakyatkaltim.com)

Rakyatkaltim.com, Samarinda – Naiknya harga kedelai dan dihentikannya impor kedelai berimbas pada pengusaha pembuat tahu dan tempe di Samarinda.

Hal itu lah yang di rasakan Kasimin (73) pemilik usaha pabrik tahu rumahan yang berada di Jalan Lumba-lumba RT 10, Kelurahan Selili, Kecamatan Samarinda Ilir, Kota Samarinda.

Ia menyebutkan mulai bulan November 2020 hingga Awal Januari 2021, harga kedelai terus mengalami kenaikan. Hingga mencapai 30 persen.

“Biasanya 1 karung kedelai dengan berat 50 kg saya beli harga 360 ribu, tiap bulan naik turus dan sekarang udah samapi 500 ribu,” jelas Kasimin saat di temui di pabrik tahu miliknya Rabu (6/1/2021).

Kasimin yang telah bergulut dalam usaha pembuatan tahun dari tahun 1970 itu terpaksa menaikkan harga tahu yang ia jual dan mengurangi ukuran tahu yang ia jual. Itu di lakukan agar tak merugi.

“Ya kita nikan biasanya tahu mentah di jual 10 ribu per 40 potong jadi 30 aja, sedangkan yang sudah Mateng 100 potong di jual 30 jadi 35, itu pun masih tetap sedikit untungnya,” ungkapnya.

Kasimin menyebut, kenaikan tahu buatannya tak hanya lantaran harga kedelai yang naik, namun juga, bahan-bahan lainnya, seperi minyak, pelastik, dan kayu bakar pun ikut mengalami kenaikan.

“Semua naik juga mas, ya kalau kita ga naikan harganya dan memperkecil potongan tahu, mungkin sekarang saya sudah gulung tikar,”tuturnya.

“Biasanya dulu saya bisa dapat 500 ribu bersih, sebelum ada kenaikan, tapi sekarang paling banyak 100, itu gin cuman cukup buat makan dan bayar begawi,” ujarnya.

Kasimin berharap mendapatkan perhatian dari pemerintah, agar dapat mengembalikan harga-harga bahan pokok tahu. Lantaran ia berfikir jika terus-terusan seperti ini, usaha yang telah di bangun 40 tahun terancam gulung tikar.

“Ya harapan saya pemerintah bisa membantu kami, suapaya bahan-bahan pokok bisa cepat turun, sebab di daerah sini rata-rata pengusaha pembuat tahu,” tandasnya.

Selain itu, tak jauh dari pabrik Kasimin,  Anwar Sanusi pengusaha pabrik tempe, mengungkapkan semenjak harga kedelai mengalami kenaikan ia terpaksa mengurangi jumlah produksi.

“Biasanya dalam sehari 40 Kg dalam sehari, pas sekarang naik hanya 30 kg saja saya produksi,” ucapnya.

Hal itu dilakukan, lantaran Anwar takut tempe miliknya tak habis di jual. Selain itu juga ukuran tempat miliknya diperkecil. Alasannya pun sama, untuk menghindari kerugian.

“Takut ga habis mas, makanya buat sedikit Aja, ya kalau harganya ga dinaikan cuman potongannya diperkecil,” ungkapnya.

Ditambah pandemi Covid-19 atau virus corona, beban yang dipikul oleh lelaki yang memiliki dua anak tersebut, kini semakin terasa. Pasalnya berdasarkan pengakuannya, pelanggan atau orang biasa membeli tempe di tempatnya mengalami penurunan, sehingga pendapatan pun berkurang.

Namun ia enggan menyampaikan penghasilan tersebut secara detail kepada awak media.”Pendapatan merosot jauh, sejak wabah Corona,” pungkasnya.(*)

Penulis: Muhammad Budi Kurniawan

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *