Minim Partisipasi Pemilih Padahal KPU Kota Balikpapan Miliki Anggaran Cukup Fantastis

  • Whatsapp
banner 468x60

BALIKPAPAN — Pemilihan Kepala Daerah telah usai 9 Desember kemarin, namun publik masih bertanya-tanya terkait minimnya partisipasi pemilih yang mengakibatkan tingginya Golput di Pilkada Balikpapan.

Berdasarkan data Ketua Umum Gepak Kuning Suriansyah alias Prof. merinci, perolehan paslon sebanyak 154.182 suara, peroleha kokos sebanyak 91.908 suara, sedangkan jumlah pemilih ada 443.243.

“Bisa dikalkulasi, golput sebanyak 197.153, golput yang unggul. Kalau digabung suara golput dan kokos mencapai 289.06, jumlah ini yang tidak memilih paslon,” tegas Prof.

Publik mulai bertanya apakah dengan kurangnya partisipasi pemilih di Pilkada Kota Balikpapan akibat kurangnya sosialisasi serta himbauan yang lakukan oleh KPU sendiri.

Sementara KPU sendiri mendapatkan alokasi anggaran, yang terbilang cukup fantastis yang di kelolah oleh Komisi Pemilihan Umum Kota Balikpapan.

Dilansir dari halaman situs resmi KPU Kota Balikpapan https://kota-balikpapan.kpu.go.id/2019/09/19/anggara-pilkada-disepakati-walikota-dan-ketua-kpu-kota-balikpapan-tandatangani-nphd/

Walikota Balikpapan HM Rizal Effendi, mengatakan, hibah yang diperuntukkan pada Pilkada Kota Balikpapan Tahun 2020 ini menggunakan 2 kali anggaran. Yaitu ada yang diambil dari APBD Perubahan tahun 2019. Dan ada yang  diambil dari APBD Tahun 2020.

Ia juga menyampaikan total biaya Pilwali 2020 itu adalah dari KPU Kota Balikpapan, Bawaslu Kota Balikpapan ditambah dengan biaya keamanan mencapai Rp 73,3 miliar.

“Yang dari KPU sekitar 53,9 miliar rupiah. Dan untuk Bawaslu sebesar 11 miliar rupiah. Kemudian untuk keamanan adalah 7,8 miliar rupiah. Nah jadi, untuk KPU lewat APBD perubahan 22 miliar. Kemudian Panwaslu 4,6 miliar. Serta keamanan 1,5 miliar akan kita salurkan pada tahun 2019 ini,” ujar Rizal Effendi.

Lebih lanjut Rizal menyampaikan, jika jumlah anggaran yang dibutuhkan pada Pilwali Balikpapan tahun 2020 mendatang mencapai Rp 73 miliar, ia sempat memberikan asumsi. Jika jumlah pemilih kira kira 460.000 pemilih, maka satu pemilih kira kira membutuhkan besaran dana sekitar Rp 170.000,-

“Kalau kita bagi 73 miliar dibagi 460 ribu orang. Jadi harga 1 suara itu atau biaya 1 pemilih itu sekitar 160 ribuan rupia. Nah, repotnya biaya itu harus dikeluarkan saudara-saudara. Jadi kita berkepentingan juga kepada mereka yang menggunakan hak pilih. Sebab kalau yang digunakan hanya 60 persen atau 70 persen. 30 persennya tidak menggunakan hak pilihnya. Maka tetap juga biayanya dikeluarkan. Karena itu kita berkepentingan dalam meningkatkan tingkat partisipasi pemilih,” imbuh Rizal Effendi.

# Berita Ini Masih Berlanjut

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *